Minggu, 09 Oktober 2016

SUDAH TERTULIS DI LAUH MAHFUZ



  Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
  Rasa syukur selalu saya curahkan kepada Allah SWT yang telah memberi barakah kepada saya, sehingga saya dapat kembali memposting tulisan di blog saya ini. Tak lupa shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW, Allahumma sholli’ala Muhammad wa’ala ali Muhammad.
 Kali ini saya  ingin menuliskan sebuah kisah seorang gadis yang tak pernah merasakan kemewahan dalam hidupnya, namun ia selalu bahagia meski banyak orang yang mencemoohnya. Mari kita simak. Semoga kisah ini bermanfaat untuk kita semua.
LET’S READ.......
 SUDAH TERTULIS DI LAUH MAHFUZ
  “Kini aku tahu kenapa Allah mentakdirkan aku menjadi seperti ini.” Kata seorang gadis yang tengah menyaksikan derasnya hujan dari balik kaca.
  Hujan deras sore itu mengguyur bumi dan seisinya, irama khasnya mengalun merdu bak nyanyian yang bisa membuat siapa saja terpesona. Hujan selalu saja bisa menyejukkan. Apa dikata andaikan bumi ini tak terguyur hujan? Betapa tandusnya tanah ini? Bagaimana jika tak ada ai? Bisakah umat manusia bertahan hidup? Tentu saja jawaban tepatnya adalah hujan itu suatu berkah. Itu sebabnya gadis itu menyukai hujan. Baginya hujan adalah suatu bentuk cinta dari Allah kepada umat-Nya.
  Gadis itu melamun sembari menatap derasnya air hujan yang tumbah dari langit, ia kembali teringat pada sosok kedua orangtuanya yang sangat ia cintai. Ibunya, telah berbulang pada saat ia masih belia. Dan ayahnya, kini berada di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya sekarang, karena ia bekerja di kota yang berbeda dengan ayahnya. “Aku ingin dekat dengan bapak.” Gumam gadis itu. Somehow[1], akhir-akhir ini ia berkeinginan untuk kembali bersanding dengan ayahnya.
  “Assalamu’alaikum Zainab.” Suara seseorang menginterupsi gadis yang bernama Zainab itu dari lamunannya.
  “Wa’alaikumsalam Nada. Kau mengagetkanku saja.” Ujar Zainab kepada sahabatnya, Nada.
  “Habisnya kau sedang melamun, aku takut kau kesurupan.” Canda Nada.
  “Hus, kamu ini jangan sembarangan ngomong.” Kelak Zainab.
  “Bercanda. Sebenarnya kau ini kenapa, Zainab?”
  Zainab tak langsung menjawab pertanyaan Nada, ia kembali menatap hujan yang seolah tak ingin berhenti mengguyur gersangnya bumi ini. Zainab memilin-milin ujung kain jilbabnya. Nada sangat faham, bahwa itu adalah kegiatan Zainab ketika ia dilanda kebingungan.
  “Bagaimana kalau aku berhenti saja?” Zainab mulai angkat bicara.
  “Maksudmu?” Tanya Nada bingung.
  “Iya, aku ingin resign dari pekerjaan ini dan pulang ke kotaku. Akhir-akhir ini aku selalu merasa gelisah, entah kenapa kau jangan bertanya karena aku juga tak tahu.” Jelas Zainab.
  “Tapi kenapa? Lalu apa rencanamu jika kau resign? Hey, prestasimu di perusahaan ini begitu bagus. Come on Zainab, are you crazy? Kau ini cerdas, kau selalu punya ide cemerlang untuk perusahaan ini. You’re the best employees in this company, Zainab.” Ujar Nada panjang lebar yang kaget dengan keinginan sahabatnya untuk resign. Nada adalah seorang general manager, ia alumni universitas terbaik di Inggris, Oxford Univercity. Sementara Zainab, ia adalah seorang arsitek yang bekerja di sebuah perusahaan properti yang juga sama dengan tempat Nada bekerja.
  “Boleh aku bercerita sedikit, Nada?”
  “Ok, silahkan.”
  “Semua yang kudapat ini tak lain adalah dari peran orangtuaku. Dari kecil aku sudah biasa hidup dengan tak bergelimang harta. Ayahku hanya seorang petani sayuran. Ibuku, ia hanya seorang ibu rumah tangga yang dengan sabar mengurusa pekerjaan rumah dan anak gadisnya yang bengal ini.” Zainab membenarkan posisi duduknya dan melanjutkan lagi ceritanya, “Ibuku meninggal ketika umurku dua belas tahun, ia sakit keras. Saat itu aku benar-benar terpukul akan hal itu, dimana gadis seumurku masih butuh bimbingan seorang ibu. Aku sempat putus asa. Setelah kepergian ibuku, aku mengambil alih semua pekerjaannya, mencuci baju, membersihkan rumah bahkan memasak untuk ayahku walaupun saat itu aku belum terlalu bisa memasak.”
  Nada terlihat sangat serius mendengar cerita sahabatnya itu.
  “Sementara itu, ayahku sempat down atas kepergian ibu. Ia menjadi orang sama sekali bukan ayahku, ia malas bekerja, ia tak pernah beribadah dan ia seakan melupakan keberadaanku. Hingga biaya hidup dan sekolahku pun harus ditanggung oleh pamanku. Entahlah, mungkin saat itu ayahku depresi. Hingga beberapa tahun kemudian ia mulai bangkit dari keterpurukannya, Allah telah menolongnya.” Zainab menarik nafas panjang, ia sejenak berhenti.
  “Lalu?” tanya Nada terlihat sangat simpati dengan cerita Zainab, Zainab tak pernah menceritakan keadaan keluarganya pada Nada selama ini.
  “Sejak kecil aku tak pernah bergelimangan harta, jika aku ingin mendapatkan apa yang aku ingin aku harus berusaha dan menabung. Disaat teman-teman sebayaku sudah punya ponsel canggih diera itu, aku hanya gigit jari hingga suatu hari aku mendapatkan hadiah sebuah ponsel dari pamanku karena aku mendapat juara satu umum di sekolah. Apapun yang aku dapatkan bukan tanpa kerja keras dan usaha, Nada. Bahkan pekerjaanku saat ini.” Ujar Zainab, ia mengambil sebuah bolpoin di mejanya dan memainkannya. “Semua itu membuatku sadar bahwa Allah sangat mencintaiku. Ketika Ia memanggil ibuku untuk kembali pada-Nya aku mulai sadar bahwa Allah ingin aku menjadi gadis mandiri yang pandai mengurus pekerjaan rumah, pandai memasak dan mengurus diri sendiri. Pasti jika ibuku masih ada, aku akan menjadi gadis manja yang selalu mengandalkan ibuku dan menganggapnya sebagai asistenku yang siap melaksanakan semua keinginanku. Dan aku tak tahu juga apa jadinya jika aku terlahir dari keluarga kaya, pasti dengan mudah aku mendapatkan semua keinginanku tanpa tau bagaimana cara untuk berusaha mendapatkannya dan menganggap ayahku sebagai bank berjalanku.”
  “Lalu apa alasanmu untuk resign, Zainab?”
  “Yang pertama, aku ingin menyanding ayahku yang sekarang kian renta. Aku tak tega membiarkannya seorang diri di rumah. Bahkan ia pernah berkata padaku bahwa dia kesepian. Dan yang kedua, aku berniat membuka sebuah usaha, aku punya hobby membuat kua dan aku ingin membuka sebuah toko kue. Menurutmu bagaimana?”
  “Sejujurnya aku sedih mendengarkan utaramu tadi. Disaat kau mendapatkan puncak kesuksesanmu mengapa kau akan melepaskan begitu saja. Tak semua orang seberuntung kau, Zaianab.”
  “Ini semua hanya sebuah ujian dari Allah, kesuksesaanku ini. Aku hanya ingin mengabdi pada ayahku, ia satu-satunya orangtuaku saat ini. Lagi pula, aku sudah meminta petunjuk dari Allah melalui sholat istiqarah dan berkali-kali jawabannya adalah aku harus resign. Sebenarnya aku bukan meminta izin atau pendapatmu, aku hanya mengutarakan keinginanku. Karna sekalipun kau tak setuju, aku akan tetap resign. Maaf Nada.”
  “Baiklah Zainab, jika itu pilihanmu lakukanlah karena aku tak bisa menghalangimu.”
***
  BEBERAPA BULAN SETELAH ZAINAB RESIGN
   Zainab duduk di sebuah bangku taman yang ada di depan rumahnya. Ia sedang istirahat sejenak dari kesibukan mengurus toko kuenya yang mulai banyak pesanan. Sembari memandangi bunga-bunga yang bermekaran di pekarangan kecilnya ia teringat semasa kecil dulu ia gemar berkebun dengan ibunya. Menanam berbagai macam bunga.
  “Zainab?” tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya.
  “Bapak?” sapa Zainab lembut.
  “Kau sedang apa, nak?”
  “Zainab sedang menyegarkan pikiran sejenak pak.”
  “Menyegarkan pikiran itu ya jalan-jalan. Makanya kamu segera cari calon suami supaya ada yang menemanimu kemana-mana.”
  Kata-kata dari ayahnya itu membuat Zainab dihantam oleh batu berukuran super besar. Mengapa ayahnya tiba-tiba membicarakan hal ini, ataukah ayahnya benar-benar mengingikan Zainab segera menikah. Ya, memang Zainab adalah wanita yang super sibuk sehingga tak ada kesempatan baginya untuk mengenal pria bahkan sejak remaja pun ia tak pernah mengenal apa itu pacarn. Dulu, ia pernah mendapat cemoohan dari temannya bahwa Zainab adalah gadis yang kurang gaul karena tak pernah punya pacar, penampilannya pun tak semodis teman gadis sebayanya sehingga tak ada teman laki-laki yang meliriknya. Zainab sempat malu, ia berusaha merias diri agar ada teman laki-laki yang menyukainya, alih-alih mendapat pacar Zainab malah mendapat marah dari paman, bibi dan ayahnya karena semenjak itu nilai sekolahnya selalu buruk, akhirnya ia mengurungkan niat untuk pacaran sampai sekarang.
  “Zainab, kau dengar bapak nak?”
  “Hah, oh iya dengar pak.”
  “Keinginan bapak hanya satu yaitu melihatmu bahagia dengan keluarga kecilmu, maka menikahlah.” Ujar ayah Zainab yang kembali meniggalkan Zainab seorang diri dengan kegamangannya.
DUA HARI SETELAHNYA
  Zainab menghadiri acara pernikahan sahabat semasa SMA dulu, Reina. Reina adalah seorang designer busana muslim sukses, ia menikah dengan seorang polisi ganteng dan santun. Membuat Zainab semakin gamang ketika ia melihat para sahabatntya sudah membangun rumah tangga dan bahkan sudah ada yang memiliki anak sementara seorang kenalan pria yang siap untuk menikahinya pun ia tak punya.
  Ketika Zainab sedang asyik ngobrol dengan teman-teman lamanya, seorang pria datang menghampiri dan menginterupsi obrolan mereka.
  “Assalamu’alaikum.” Sapa seorang pria bertubuh tegap.
  “Wa’alaikumsalam.” Sahut Zainab dan yang lainnya. Saat itu Zainab tidak terlalu menghiraukan pria itu karena ia tak merasa mengenalnya, berbeda dengan teman yang lain yang sibuk menanyakan bagaimana kabar pria itu. Zainab sibuk dengan ponselnya karena kebetulan ada pesanan kue dari seorang pelanggan.
  Hingga suara teduh pria itu mengusik Zainab, “Kalau kau bagaimana Zainab? Apa kabar?”
  “Hah, em aku baik-baik saja.” Ujar Zinab seadanya, ia sempat bingung apak pria itu juga mengenalnya. Zainab tak pernah merasa memiliki teman seperti dia sewaktu SMA dulu.
  “Kau lupa ya Zainab?” tanya Dinar, salah seorang teman Zainab. “Dia ini Fatih kelas IPA-1 dulu, kau lupa ya?” jelasnya kemudian.
  Zainab tak segera menjawab, ia mencoba memutar otaknya. Zainab mengingat satu per satu teman SMA yang pernah ia kenal dulu. Hingga ia menemukan seseorang bernama Muhammad Fatih, seorang siswa bengal dengan penampilan acak-acakan yang selalu dimarahi guru karena kenakalannya. Memori Zainab tentang seseorang yang bernama Fatih dulu sungguh jauh berbeda dengan Fatih yang sekarang ada di depannya, pria bertubuh tegap, rapi dan sangat santun tutur katanya. Wajar saja jika Zainab pangling. Namun Zainab sempat tak yakin bahwa pria itu adalah Fatih tetangga kelasnya dulu.
  “Kau sedang memikirkan apa Zaianab? Pasti kau sedang mengingat aku yang dulu sangat jauh berbeda dengan aku yang sekarang ya?” tebak Fatih.
  ‘Bagaimana dia bisa membaca pikiranku? Jangan-jangan sekarang profesinya adalah paranormal ulung.’ Gumam Zainab dalam hati. “Oh tidak. Iya aku ingat sekarang. Kau Muhammad Fatih yang dulu pernah dihukum guru karena mencoret-coret mobil kepala sekolah, kan?” jelas Zainab.
  “Nah, benar kan kau sedang mengingat kenalan-kenalanku dulu.”
  Kedua pipi Zainab memerah, dari ujung kepala sampai pangkal lehernya memanas. Zainab tak pernah merasa segugup itu di depan seorang pria.
  “Jelas saja Zainab pangling padamu, kau yang sekarang berbanding 180 derajat dengan yang dulu. Sekarang kau sudah jadi dokter hebat yang santun.” Puji seorang teman lain yang berbama Briyan.
  “Ah jangan memujiku seperti itu.” Kelak Fatih tersipu malu. “Oiya Zainab kau belum jawab pertanyaanku, apa kabarmu?” ujar Fatih pada Zainab yang masih saja sibuk dengan ponsel.
  “Alhamdulillah aku baik-baik saja.”
  “Kulihat dari tadi kau selalu sibuk dengan ponselmu, apakah ada sesuatu yang penting?” tanya Fatih.
  “Iya, di rumah ada pelanggan mau ambil pesanan kue.” Jelas Zainab.
  “Wah toko kue mu lagi kebanjiran pesanan ya?” canda salah seorang teman yang bernama Vania.
  “Alhamdulillah. Em, kalau begitu aku pulang sekarang ya, nggak enak pelangganku nunggu lama. Pamitin ke Reina dan suaminya ya. Assalamu’alaikum.” Ujar Zainab berlalu pergi tanpa mendengarkan komentar dari teman-temannya.
  MALAM HARINYA SAAT ZAINAB HAMPIR TERLELAP
  Tiba-tiba ponsel Zainab berdering, tanda ada pesan Whatsapp masuk. Zainab tak mengenali itu nomor ponsel siapa.
  “Assalamu’alaikum Zainab. Selamat malam. Maf menganggu. Aku hanya ingin memastikan kabarmu saja.” Isi pesan itu.
  Zainab tak langsung membalas pesan itu, ia mencoba melihat foto profilnya. Seorang pria memakai jas putih sedang tersenyum lepas yang tak lain adalah Fatih. Zainab sungguh terkejut. Dengan gugup dia membalas pesan itu.
  “Wa’alaikumsalam. Selamat malam. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku baik-baik saja.” Balas Zainab.
  “Baiklah kalau begitu. Besok aku ingin datang ke toko mu karena aku ingin pesan kue untuk ibuku. Em, Dinar sudah berikan alamat tokomu padaku. Sampai jumpa besok.” Balas Fatih.
  “Ohya, terimakasih sudah ingin pesan kue di tokoku. Sampai jumpa.” Balas Zainab.
  Tak ada balasan lagi dari Fatih. Zainab yang saat itu memang sedang kelelahan segera tidur.
  Keesokan harinya Fatih benar-benar datang ke toko kue milik Zainab dan memesan sekotak kue tart berukuran besar untuk ulangtahun ibunya. Semenjak itu, hubungan mereka semakin dekat, Fatih lebih sering datang ke toko kue Zainab untuk membeli beberapa cup cake untuk ibunya yang kabarnya suka dengan kue buatan Zainab. Zainab pun gembira karena punya pelanggan baru.
  Singkat cerita, suatu hari Fatih menemui Zainab yang sedang sibuk melayani pelanggan di tokonya, Fatih pun sabar menunggu hingga Zainab selesai. Fatih duduk di sebuah bangku di depan toko. Zainab menghampirinya setelah dirasa aktivitas toko mulai lengang.
  “Ada apa Fatih? Tumben kamu datang tanpa memberi kabar dulu. Kan aku bisa mempersiapkan dulu pesananmu sehingga kau tak perlu menunggu.”
  “Aku memang sengaja datang bukan untuk membeli kue. Ada yang ingin kubicarakan padamu.”
  Sontak degup jantung Zainab berdenyut lebih cepat, tak pernah sebelumnya ia mendengar nada bicara seserius ini dari Fatih.
  “Aku menyukaimu Zainab. Would you be my best friend forever? Would you be my partner for afterlife? Would you be my angel in His Jannah?” tutur Fatih dengan lembut dan penuh kemantapan. Sedangkan Zainab, ia sibuk menata hatinya yang sedang kalang kabut. Sekujur tubuhnya memanas.
  Dengan hati-hati Zainab menjawab, “Tolong beri aku waktu.”
  “Baiklah, maaf telah mengusik hatimu.” Kata Fatih. “Satu minggu lagi aku akan datang untuk menagih jawabanmu.” Terangnya yang kemudian pergi.
  Zainab gamang akan ucapan Fatih, tak henti-hentinya ia meminta petunjuk pada Allah melalui sholat istiqarah dan lagi-lagi ia selalu bermimpi Fatih memberinya sebuah cincin setiap kali setelah ia sholat istiqarah dan tertidur.
  Sedangkan di tempat berbeda Fatih sedang gelisah menanti jawaban dari Zainab. Sebelumnya tak ada yang tahu jika Fatih telah mengagumi Zainab sajak SMA dulu. Menurutnya Zainab adalah gadis yang manis dan santun. Zainab adalah gadis yang cerdas dan selalu mendapat juara di sekolah. Dulu ia tak berani mendekati Zainab karena ia adalah gadis yang beda dari teman gadisnya yang lain, Fatih tak sampai hati mendekatinya. Menurutnya Zainab adalah gadis istimewa. Hingga sekarang Allah menggariskan pertemuannya dengan Zainab dan kali ini ia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.
  Keduanya sama-sama gamang.
  Singkat cerita, Zainab menerima pinangan Fatih. Mereka menikah tepat disaat umur Zainab menginjak duapuluh lima tahun, persis seperti keinginan Zainab dulu.
  Ucapan selamat mengalir dari semua keluarga, sahabat teman maupun teman dari Zainab dan Fatih pada saat resepsi pernikahan mereka. Betapa bahagia hati keduanya. Akhirnya keinginan sang ayah untuk menyaksikan pernikahan putri tercinta satu-satunya terlaksana sudah.
  “Semoga keluargamu bahagia dan selalu diberkahi oleh Allah, nak.” Kata ayah Zainab penuh kasih sayang semberi memeluk lembut putri tercintanya.
  “Terimakasih, pak. Zainab sangat menyayangi bapak.” Balas Zainab penuh kasih sayang dan hormat pada ayahnya.
***
  Zainab dan Fatih duduk di hamparan rumput di sebuah taman. Mereka sedang berlibur. Salah seorang temannya memberi mereka kado voucher berlibur ke Lisse, Belanda. Saat itu Belanda memasuki musim semi, mereka sedang berkunjung ke Keukenhof Garden, sebuah taman bunga terbesar di dunia yang memiliki tujuh juta kuntum bunga yang ditanam setahun sekali. Zainab yang amat menyukai bunga tentu saja dia sangat antusias. Apalagi di musim semi, bunga-bunga bermekaran dengan indahnya. Begitu juga Bunga Tulip, bunga khas Belanda mekar dengan sempurna.
  “Zainab, kau bahagia?”
  “Iya.”
  “Coba, kau sebutkan keistimewaanmu sebagai istriku!”
  Zainab meghela nafas panjang, “Aku tak tahu menurutmu ini istimewa atau tidak.”
  “Sebutkan saja.”
  “Kau adalah pria yang pertama kali menggenggam tanganku selain bapakku, kau adalah pria yang pertama kali mengucapkan cinta padaku selain bapakku. Dan kau adalah pria yang pertama dan terakhir yang berhasil memenang hatiku. Belum ada sebelumnya yang berhasil menodai hatiku dengan cinta palsu melalui 'pacaran'. Karena aku sama sekali belum pernah pacaran dengan pria manapun selain dirimu, dan kita pun pacaran setelah kita menikah.”
  Airmata Fatih mengalir dengan derasnya dari ujung kedua kelopak matanya.
  “Kenapa kau menangis?”
   “Sungguh kau sangat istimewa untukku. Namun maafkan jika kau bukan wanita pertama yang ku sentuh selain ibuku. Maafkan keburukanku yang dulu yang kau sendiri mengetahuinya, Sungguh aku beruntung dapat meraih hatimu. Namun aku bukan orang yang baik untukmu.”
  “Sungguh aku tak pernah melihat masalalumu. Karena kau adalah pria yang sudah ditulis oleh Allah di Lauh Mahfuz untukku. Jalani saja hidup kita yang sekarang ini. Aku mencintaimu karena-Nya.”
  “Terimakasih atas kebaikan hatimu. May i can bring you to His Jannah through my love.”
  “Aamiin.”


Kata-kata inspiratif :
   Ikhwan dan Akhwat sekalian, jangan pernah mengeluh atas apa yang telah kita dapat. Karena manusia tidak akan pernah bisa memilih untuk dilahirkan di keluarga mana, bagaimana rezekinya, siapa jodohnya dan kapan akan bertemu jodohnya. Semua itu sudah tertulis di Lauh Mahfuz. Yang harus kita lakukan adalah berusaha dan berdoa dan jangan lupa bersyukur kepada Allah SWT. Seperti firman Allah dalam QS Ar-Rahman, Ayat : “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kau dustakan?” Dalam ayat itu Allah SWT mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas apapun yang Ia berikan pada kita.
  Bagaimana perasaan ikhwan dan akhwat jika suatu hari nanti mendapat istri/suami yang mengucapkan, "kau adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupku, belum ada sebelumnya yang berhasil menodai hatiku dengan cinta palsu melalui 'pacaran'." waaaaaaaaaw, AMZING.
  Semoga Allah selalu memberikan rahmatNya kepada kita, semoga kita dapat bertemu Rasulullah SAW di surga Allah SWT. Aamiin.


[1] Entah bagaimana (Bahasa Inggris)

Jumat, 23 September 2016

Kisah Inspiratif Yang Aku Tulis Berdasarkan Kisah Sahabatku



MENJEMPUT HIDAYAH DI NEGERI SAKURA
  Save flight ya kawanku.”
  ”Jangan sampai lupa sama tahu tempe ya. Hehehe.”
  “Jangan lupa sholat ya, nduk. Ibu selalu doain kamu.”
  “Jaga diri di negeri orang, nak. Bapak akan rindu kamu.”
  “Mbak, bawain oleh-oleh yang banyak kalo pulang ke Jogja ya.”
  “Kalo punya kenalan ganteng kenalin aku ya mbak.”
  Semua ucapan perpisahan itu semakin membuatku ingin menitikan air mata, mana kala di Bandara Adi Sucipto untuk mengantarkan keberangkatanku ke Jepang. Betapa tidak, kini aku akan berada sangat jauh dengan mereka, orangtua, kedua sahabat dan kedua adikku. Beribu-ribu mil jauhnya, berada di negeri asing yang sama sekali tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Namun, ini semua sudah menjadi pilihanku, aku tak bisa mundur lagi. Aku hanya bisa membalas semua ucapan itu dengan senyuman.
  Tiba-tiba kurasakan genggaman hangat di tangan kananku, “Kimasu[1], pesawat akan lepas landas sebentar lagi.” Senyum mengembang di bibir pria berkulit putih bersih yang tengah berdiri di sebelahku.
  Aku hanya membalas dengan anggukan. Kelopak mataku mulai memanas dan buliran bening tak dapat lagi ku bendung, sebentar lagi aku akan meninggalkan orang-orang terkasihku dan tanah kelahiranku. Entah mengapa mendadak bibir ini begitu kelu, hanya untuk memgatakan kata ‘sampai jumpa’ pun tak mampu. Aku tahu jika aku mengatakan sesuatu pasti akan semakin membuatku tak bisa meninggalkan mereka, aku bukan orang yang pandai menata perasaan di hadapan orang banyak. Ku cium kedua pipi ibuku, kucium tangannya, lalu bapakku. Kemudian ku peluk kedua adikku, lalu kedua sahabatku. Pelukan lembut yang akan selalu mengingatkanku pada setiap potongan kisah di tanah air ini.
  Perlahan langkah kaki ku mulai menjauh dari mereka yang masih menatap kepergianku, senyum merekah dari bibir mereka namun terselip rasa haru dibaliknya. Kubalikkan badanku hingga menghadap mereka yang masih mematung, “Aku akan kangen kalian.” Teriakan itu membuat seisi bandara mengarahkan pandangannya ke arahku. Anggukan dan lambaian tangan mejadi balasan terakhir mereka sebelum aku meninggalkan negeri tercinta ini.
  “Apa kamu baik-baik saja?” ujar Kei, pria berdarah Jepang yang kini menjadi suami ku.
  Ya, setelah sebulan yang lalu aku dan pria pemilik senyum manis ini menikah, aku akan ikut serta bersamanya untuk tinggal di negeri kelahirannya. Apa boleh buat, aku tak dapat menolaknya lagi karena ini adalah perjanjian sebelum kami menikah. Awalnya aku sangat ragu untuk menikah dengannya, begitu banyak perbedaan antara kami. Hingga akhirnya Allah memberi kami jalan untuk bersatu dalam ikatan halal pernikahan.
  Inilah pertemuan kami, saat itu tiga tahun yang lalu ia baru saja dipindah untuk bertugas di Indonesia oleh perusaan tempat ia bekerja. Pertama kali ia mengunjungi Japanesse Restaurant tempatku bekerja. Aku bekerja di salah satu restoran Jepang yang ada di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Saat itu ku beranikan diri merantau ke Jakarta dan meninggalkan keluarga ku di Jogja, semata-mata karena aku ingin meraih kesuksesan. Aku bukan anak yang suka bergantung pada orangtua, ketika itu aku baru saja lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan.
  Dompet Kei tertinggal dan kebetulan aku yang menemukannya tergeletak di atas meja, lalu kusimpan. Keesokan harinya ia kembali untuk memastikan apakah dompetnya tertinggal atau tidak. Beruntung aku bukan orang yang suka merampas apa yang bukan hak ku. Kuberikan dompet itu pada si pemilik, itulah awal perkenalanku dengannya, Kei Kazuki, pria tampan dan sangat ramah. Setelah peristiwa itu ia jadi gemar mengunjungi restoran tempatku bekerja, entah karena makanannya lezat atau ada maksud lain. Seringkali ia mengajakku ngobrol disela-sele kerjaku, sebagai karyawan yang baik aku melayani customer dengan baik, selama itu tak melanggar norma. Akhirnya kami pun bertukar nomor Whatsapp, sesekali bertemu di akhir pekan atau sekedar mengobrol di depan restoran ketika aku pulang kerja, untung saja Bahasa Inggris pria itu cukup lancar hingga kami tak menemukan kesulitan berbicara. Entahlah ia selalu siaga di depan restoran ketika aku pulang kerja. Satu tahun berlalu.
  Hingga pada suatu malam, ia mengucapkan kalimat yang sungguh membuat aliran darahku membeku, kedua pipi ku memanas dan entahlah jika aku punya ilmu menghilangkan diri, rasanya aku akan menghilang dari hadapanya saat itu juga.
  “Will you marry me? Aku pikir kau adalah gadis terbaik yang ku pilih menjadi pendamping hidupku.”
  Aku tak bisa menggerakkan lidah, seketika semua terasa kaku dan pipiku kian memanas, pasti ia telah menyaksikan pipiku yang merah semerah kepitig rebus. “Are you serious? Aku bukan orang yang suka bercanda.” Ujarku dengan kepala tertunduk, aku tak kuasa mentap wajahnya.
  “Apa kau melihat aku sedang bercanda. Come on, untuk masalah ini aku tak bisa bercanda.”
  “Tapi. Apakah kau tahu?”
  “What? Please tell me.”
  “Ada jurang diantara kita, banyak sekali perbedaan, terutama tentang...” tak kulanjutkan ucapanku, aku takut akan menyinggung perasaannya.
  “Tentang apa? Tolong bilang saja, perbedaan apa maksudmu?
  “Tentang, tentang keyakinan kita. Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang tak seiman denganku. I’m so sorry, it would never be.” Kemudian kuraih tas ku dan bergegas pergi meninggalkan Kei yang saat itu terlihat kurang faham dengan penjelasanku.
Enam Bulan Kemudian
  Waktu menunjukkan pukul semibilan malam, aku hendak bergegas pulang ke kost ku karena jam kerja sudah usai. Aku terkejut setelah melihat Kei berdiri di halaman parkir restoran. Tak ku sangka, ku kira setelah 6 bulan ia sama sekali tak menghubungi ku ia pun sudah tak perduli denganku, namun mengapa tiba-tiba ia hadir lagi. Entahlah apa tujuannya menemuiku.
  “Hi, how are you?” sapanya ramah. “Besok tolong datang kantor ku pukul sepuluh pagi.” Tiba-tiba saja ia mengucapkan kalimat yang bernada perintah.
  “Tapi untuk apa?”
  “Sudah kamu datang saja, kalau sudah sampi lobby bilang saja kamu teman ku. Maka, nanti receptionist akan menunjukkan di mana kau harus menemui aku.” Ujar Kei sembari membuka pintu mobilnya, tanpa mau mendengar persetujuan dariku “Ku tunggu ya. Don’t be late.” Lanjutnya diiringi senyum manisnya yang menggetarkan dadaku.
  Keesokan harinya, aku datang ke kantor Kei tepat pukul sepuluh. Sesampainya di lobby seorang receptionist berparas cantik beramput sebahu menyapaku ramah. Begitu aku bilang bahwa aku adalah teman Kei, ia pun mengantarku menuju ruangan di mana tempat Kei berada sekarang. Aku terkejut saat receptionist itu membawaku ke sebuah ruangan kecil berkukuran sedang, terlihat begitu bersih dan rapi dan bertuliskan ‘Mushola’.
  “Silahkan mbak, Mr. Kei ada di dalam.” Ujar Receptionist cantik itu
  “Oh ya, terimakasih.” Balasku.
  Aku pun bergegas masuk, dan betapa terkejutnya aku, tampak seorang ustadz tengan duduk di hadapan Kei dan beberapa rekan kerja Kei. Sebenarnya apa yg sedang terjadi.
  “Etika, akhirnya kamu datang juga.” Ujar Kei begitu ia menyadari kedatanganku.
  “Kei, what happen?” sahutku penasaran
  “Ok, i’ll explain it. Aku ingin kamu menjadai saksi keislamanku. Saat ini juga aku akan memeluk islam.
  Sontak, aliran darahku tiba-tiba terasa begu, jatungku seaakan melompat dari empunta, sekujur tubuhku terasa dingin. Aku benar-benar terkejut atas apa yg telah diucapkan Kei. Ini bukan mimpi, Kei benar-benar memeluk islam. Buliran bening menetes ketika telinga ku mendengar dua kalimat syahadat keluar dari bibir Kei, “Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.” Ia ucapkan dengan penuh percaya diri. Semua seisi ruangan mengucap Alhamdulillah.
  Dua hari setelah itu, Kei menemuiku kembali untuk mengucapkan niatnya untuk menikahiku. Aku masih belum bisa menentukan keputusan, aku masih dalam kebimbangan. Akhirnya ia memberiku waktu satu minggu dan aku pun mengiyakannya. Saat itu aku meminta petunjuk pada Allah melalui sholat istiqoroh, dan ternyata Allah memberiku petunjuk agar aku menerima lamaran Kei. Tiga bulan setelahnya Kei memberanikan diri menemui keluargaku di Jogja dan kami pun menikah, tak ada perayaan mewah, hanya ijab qobul karena pekerjaan Kei yang begitu padat.
  Suara lirih membangunkan ku dari lamunan, “Apa kamu mau minum cappucino ini?” ujar Kei menawariku secangkir cappucino yang baru saja diberikan oleh seorang pramugari. Aku menolaknya dengan gelengan kepala. Ku arahkan pandanganku keluar jendela pesawat, langit yang biru dihiasi semburat awan putih yang sangat indah menemani perjalananku.
  Belasan jam penerbangan akhirnya kami sampai juga di negeri terkenal dengan bunga sakuranya. Saat ini Jepang sedang musim panas, suhunya bisa mencapai 40 derajat celcius. Untuk pertama kalinya aku berada sangat jauh dari orang-orang yang ku cintai. Aku harus memulai hidup baru dengan suasana dan orang baru.
  Keseharianku hanya ku isi dengan berdiam di rumah dan sesekali jalan-jalan menikmati keindahan kota Tokyo. Kota terpadat di Jepang ini menjadi kota metropolitan terbesar di dunia, banyak tempat-tempat yg menjadi destinasi para wistawan, salah satunya Tokyo Tower yang terletak di distrik Shibakeon Minato Tokyo. Pada suatu malam aku berkunjung ke tempat itu seorang diri. Tiba-tiba aku melihat seorang gadis Indonesia berhijab yang tengah berkunjung juga di Tokyo Tower. Ternyata di negeri minoritas muslim ini ada muslimah yang percaya diri menampakan identitasnya di khalayak umum. Entah mengapa dadaku bergetar, ku amati diriku sendiri dari ujung kepala hingga ujung kaki, ku rasa ada yang salah dengan diriku. Tapi apa? Berhari-hari aku merenung, ternyata selama ini aku belum menjadi muslimah yang seutuhnya, aku memang menjalankan perintah islam, aku sholat, aku puasa dan aku mengaji. Tapi aku tak menutup auratku. Setelah berpikir cukup lama aku semakin mantap untuk menutup aurat, terlebih saat aku beratanya pada seorang teman di Indonesia yang sudah lebih dulu berhijab. Ia bilang bahwa wanita muslim memang harus menutup aurat apapun keadaannya dan bagaimana pun akhlaknya, karena menutup aurat itu wajib bagi seorag muslimah.
  Ku beranikan untuk menyampaikan keinginanku pada suami, mulanya ia melarang karena di Jepang masih banyak islamophia akibat kabar terorisme yangberedar di seluruh dunia. Namun, pelan-pelan kujelaskan bahwa seorang muslimah wajib berhijab. Ia akhirnya memahami, namun ia memberiku persyaratan yang mengejutkan, “Kamu boleh berhijab tapi jika bertemu orangtuaku kamu lepas hijab mu. Mereka benci wanita berhijab. Kamu harus hargai juga orangtuaku.” Persyaratan yang sulit ku terima, bagaimana mungkin aku berhijab dan melepaskannya begitu saja seenakku. Namun aku harus hargai mertuaku.
  Awalnya aku agak kesulitan menemukan pakain tertutup sesuai syariat islam karena selama ini ku tak memiliki pakaian seperti itu, namun tak menyurutkan niatku. Ku kombinasi celana panjang, sweater, kaos panjang, dress panjang dan beberapa potong kain jilbab yang ku bawa dari Indonesia. Nampak kurang pas dipandang namun cukup bisa menutup auratku.
  Suatu ketika aku pergi ke sebuah supermarket untuk membeli beberapa persediaan dapur. Aku memakai dress panjang tanpa lengan berwarna hitam dan aku memakai luaran sweater rajut berwarna krem tak lupa ku kenakan jilbab berwarna hitam. Setelah beberapa menit mematut diri di depan cermin, kurasa lumayan pas outfit ku ini. Dengan percaya diri aku pun bergegas ke supermarket. Ternyata pakaianku ini mengundang banyak pasang mata untuk memperhatikanku ketika aku berjalan menuju stasiun, semua orang memandangku penuh tanda tanya, bahkan ada yang terlihat ketakutan. Entahlah apa yang terjadi dengan orang-orang itu. Dan yang paling mengejutkan, seorang penjaga supermarket memandangku penuh kebencian. Apakah ada yang salah dengan wanita berhijab di negeri ini?
  Keesokan harinya aku pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di Tokyo, aku memakai rok panjang berwarna navy blue yang ku beli saat masih bekerja di restoran dulu, untuk atasan aku memakai kaos panjang berwarna senada dan ku tutup bagian kepalaku dengan pasmina berwarna krem bermotif batik hadiah dari ibuku dulu. Saat aku menaiki kereta aku bertemu dengan sekelompok pemudi Jepang yang berpakaian sangat minim. Mereka memandangku dari ujung kaki hingga ujung kepala, mereka tampak keheranan melihatku. Salah seorang mereka berbisik dengan yang lainnya, “Kawai[2].” Mendengar ucapannya aku hanya tersenyum kecil. Ku rasa mereka heran di siang yang terik dan udaranya pun panas, aku mengenakan pakaian yang tertutup. Satu kata dari pemudi itu membuatku semakin yakin untuk menutup auratku di negeri sakura ini. Tak semua warga Tokyo berpikiran negatif tentang wanita berhijab. Terlebih kini suami mulai mendukung perubahanku. Sesekali ia memuji kecantikanku ketika sedang mengenakan  hijab. Sungguh, aku merasakan ketenangan yang luar biasa ketika aku sudah menjalankan perintah Allah yang satu ini, meskipun akhlak ku belum begitu baik. Aku yakin Allah akan menerima hijrahku ini. Semoga aku bisa Istoqomah. Aamii.
SELESAI








Kata Inspiratif :
  Sahabat muslimah, hidayah itu bukan ditunggu tapi dijemput. Banyak muslimah yg belum menutup aurat bilang, “Aku nunggu hidayah datang” saat ada orang bertanya kapan berhijab. Wah, ini salah. Bahwasannya hidayah itu tidak akan datang ketika seseorang masih terus menikmati masa jahiliahnya. Bagaimana caranya menjemput hidayah? Yaitu dengan instrospeksi diri, apakah kita sudah benar-benar baik di mata Allah, sudah menjalankan perintah-Nya dan Rasul-Nya. Lalu tanya pada diri sendiri, untuk apa aku hidup di dunia ini? Apakah untuk bersenang-senang menikmati dunia yang semu ini atau untuk bertemu dengan Allah di surga nanti? Sahabat Muslimah, mari kita renungkan bersama.
Biodata :
Nama                           : Noficha Priyamsari
Alamat                        : Simo 2 RT/RW 05/09, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta
Akun Instagram          : @nprym
Akun Twitter              : @NofichaP
Alamat E-mail             : ichapriyam@gmail.com
No. Handphone          : 081391078119

 


[1] Ayo : Bahasa Jepang
[2] Cantik : Bahasa Jepang