Selasa, 29 November 2016

HARI GINI MSIH PACARAN? HMMMM APA KATA AKHIRAT?

  Assalamualaikum ikhwan dan akhwat. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya kembila bisa memposting tulisan sederhana di blog saya ini. Tak lupa shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita, pemimpin kita, idola kita Rasulullah SAW.
  Dalam tulisan saya kali ini, saya akan menceritakan tentang PACARAN? Pacaran itu dilarang Allah? Tentu saja iya. Lalu kenapa saya membahas PACARAN? Hmmmmm simak saja tulisan berikut ini.
  BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

TAK SEGALAU JOMBLO YANG LAIN
  Terbersit sebuah pertanyaan dalam fikiranku, “Kenapa aku nggak punya pacar sih?” Pertanyaan itu yang sering kali membuat aku malu di depan teman-teman ku. Betapa tidak, di saat temanku yang lain jalan berdua dengan pacarnya, makan berdua, ke bioskop berdua, ke mana pun diantar jemput. Udah kaya dunia serasa milik berdua deh. Sedangkan aku, ke mana-mana sendiri, makan beli sendiri, mau minum angkat galon sendiri. Maklum sih anak kost. Dan mirisnya, mau nonton ke bioskop pun harus rela nunggu jadwal teman yang kosong, mereka sibuk sama pacarnya. Pernah suatu kali aku mengajak temanku untuk nonton film terbaru di bioskop, sebut saja nama temanku adalah Mawar.
  “Maaf, minggu ini pacarku mau main ke kontrakan jadi aku nggak bisa nonton sama kamu.” Itulah jawaban si Mawar yang bikin aku gigit jari. Lalu dengan geram aku menjerit dalam hati, “Terus aku nonton sama pacar siapa? Pacar orang? Oh nooooooo.”
  Aku adalah seorang jomblowati berusia duapuluh tahun yang sedang menunggu sang jomblowan yang diutus oleh Allah untukku. Jangan ditanya berapa lama aku menjomblo, karena jawabannya sangat mencengangkan. Seokor burung terbang bisa mendadak jatuh bila mendengar jawabannya, bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman bisa mendadak layu dan ikan yang sedang berenang bisa tenggelam, eh.
  “Sekali-kali pasang foto sama pacar dong.” Komentar seorang temanku di BBM setelah aku memasang fotoku sedang duduk sendirian di sebuah ayunan, sebut saja nama temanku itu adalah Melati. Wah, komentar ini saran atau hinaan ya? secara pacar siapa yang akan ku ajak untuk berfoto. Seandainya ku bilang, “Bolehkah pacarmu ku pinjam untuk berfoto?” pasti saja dia akan marah bagaikan harimau yang sedang tidur lalu diganggun oleh seekor kucing.
  Aku selalu ingin mendadak pingsan jika ditanya tentang pacar. Seakan itu adalah pertanyaan mengerikan untukku, bagaikan di kejar seokor semut raksasa berwarna hitam yang memiliki dua taring tajam mengkilat dan siap mencabik-cabikku. Tidak hanya itu, semut itu akan memakanku hidup-hidup jika aku tidak bisa menunjukkan siapa pacarku padanya. Seram! Jika seperti itu keadaannya, haruskah aku mencari pacar secepatnya? Agaknya itu hal yang sulit bagiku. Dengan tampang pas-pasan ini tak ada cowok tertarik padaku. Di era yang super moderen ini semua cowok ingin punya pacar cantik, keren, kaya dan mempesona. Semua cowok ingin punya pacar yang jago dandan, pakai bulu mata anti tanah longsor, eyeliner anti banjir yang diguyur air lima ember pun tidak akan luntur dan berlipstick merah merona. Pacar yang kalau pakai sepatu tingginya melebihi pohon cemara dan kalau berjalan aduhai membuat mabuk kepayang. Cowok mana yang tidak ingin punya pacar kalau pakai baju langsung jadi ternding topic di seluruh jagat raya. Lalu bagaimana nasibku yang hanya gadis bawang ini? Ah sepertinya itu hanya prinsip seorang cowok saja. Aku rasa prinsip seorang pria sejati bukan seperti itu.
  Jika ditanya apakah aku pernah pacaran, maka jawabannya belum pernah sama sekali hingga usiaku berkepala dua saat ini, menyedihkan sekali bukan? Aku sama sekali belum pernah pacaran sejak lahir. Namun jika ditanya apakah aku pernah jatuh cinta atau tidak, jawabannya adalah pernah. Hal itu berlangsung pada saat aku masih menyandang gelar sebagai seorang siswa SMA. Saat itu aku berkenalan dengan seorang teman laki-laki, sebut saja namanya Kumbang. Aku berkenalan dengannya saat kami sedang memesan minuman di kantin sekolah, kebetulan kami memesan minuman yang sama dan minuman itu hanya tinggal satu gelas karena sudah habis, dia pun mengalah untukku. Si Kumbang ini adalah sosok seorang siswa yang cerdas, sholeh, baik dan tentunya agak keren. Kenapa aku bilang agak keren? Karena dia memang tidak terlalu keren. Perkenalan kami pun berkelanjutan hingga kami sering berkirim pesan. Kami juga sering bertemu di perpustakaan karena kebetulan kami punya hobi yang sama, yaitu membaca. Sering kali aku juga menjumpainya di mushola pada pagi hari, ia meluangkan waktunya untuk sholat dhuha disaat teman yang lain sibuk bersenda gurau atau jajan di kantin, begitu juga pada waktu sholat dhuhur ia tak pernah absen. Seketika tumbuh rasa kagumku padanya. Kurasa lebih dari rasa kagum, mungkin aku jatuh cinta. Namun cinta seorang anak SMA hanyalah cinta monyet, cinta yang hanya tumbuh sebagai penghias angan-angan saja. Anak SMA belum mengerti seperti apa itu cinta yang sebenarnya.
  Satu tahun kemudian setelah kami lulus, lebih tepatnya pada tahun 2013.
  Hingga kami lulus pun aku masih sering berkomunikasi dengannya lewat pesan singkat atau tegur sapa melalui facebook. Kami bekerja di kota yang berbeda sehingga hanya dunia maya yang bisa mempererat silaturahmi kami. Entah mengapa semakin lama rasa kagum ini semakin melekat di hati, hingga tak bisa ku sangkal lagi bahwa rasa ini telah berubah menjadi rasa cinta. Namun aku pun tak pernah bisa mengungkapkan rasa cinta ini padanya. Biarlah aku menyimpannya hingga tiba saatnya untuk mengungkapkan, saat Allah telah meridhoi rasa ini terungkap.
  Aku pernah melakukan hal yang sangat bodoh dan menurutku itu adalah suatu kesalahan besar. Pernah suatu ketika teman kerjaku bertanya padaku mengenai pacar, saat itu aku adalah satu-satunya yang tak pernah mempublikasikan pacar di depan teman kerja yang lainnya. Aku merasa sangat malu karena aku tak punya pacar. Tiba-tiba si Kumbang terlintas dipikiranku, hingga aku berbohong pada mereka bahwa aku sedang berpacaran jarak jauh dengan seorang cowok bernama si Kumbang yang bekerja di Kalimantan. Saat itu hubunganku dengan si Kumbang memang hanya sebatas teman namun kami sering bertukar kabar, ia tak pernah sehari pun tak berkirim pesan untukku. Bisa dibilang kami sangat dekat dalam hubungan pertemanan, sehingga itu mempermudah jalanku untuk menciptakan rekayasa yang dapat memperdayai teman-temanku. Semakin hari kebohongan itu semakin panjang kali lebar kali tinggi. Aku mulai merasa jengah sendiri dengan kebohongan yang malah membuat perasaan magis semakin menjalar disetiap sudut hatiku, perasaan yang ku sebut cinta. Namun aku tetap tak bisa mengungkapkannya pada si Kumbang. Dan jauh di sana si Kumbang pun tak tahu bahwa di sini aku mengaku sebagai pacarnya. Aku tak tahu peristiwa apa yang akan menimpaku jika ia tahu. Akankah dia masih menganggapku teman atau kah ia akan merasa jijik padaku. Aku sempat ingin mengakhiri sandiwara ini, namun aku sudah berjalan cukup jauh. Membuatku mencptakan kebohongan-kebohongan yang lain. Dan pada akhirnya kesempatan untuk mengakhiri sandiwara itu pun datang, saat si Kumbang tak lagi pernah menghubungiku. Entah apa sebabnya sampai saat ini pun aku tak tahu.
  “Kok kamu nggak pernah cerita tentang si Kumbang lagi sih?” tanya temanku, sebut saja namanya Kamboja.
  “Oh aku udah putus.” Jawabku singkat.
  “Putus kenapa? Kok bisa sih, cerita dong.” tanyanya penuh penasaran bak kuli tinta yang sedang mengejar berita seorang pejabat beristri lima beranak tiga puluh yang korupsi dan memiliki tiga rumah mewah, sumpah napsu banget nanyanya.
  “Males ah, panjang ceritanya. Bisa tiga minggu lebih tiga hari tiga jam tiga menit tiga detik kalau diceritakan.” Kelakku. Aku bergegas pergi meninggalkan Kamboja sendiri dengan kekesalan yang memenuhi kepalanya. Jika bisa dilihat, kepalanya sedang mengeluarkan kepulan asap hitam ditambah semburan lahar panas.
  Namun aku masih merasa bersalah, tetap saja aku berbohong bahwa kini aku menyandang setatus sebagai mantan pacar si Kumbang. Aku telah menciptakan suatu kebohongan yang sangat memalukan untuk diingat. Semua itu karena aku tak ingin malu lantaran tak punya pacar. Bagai disambar petir aku aku terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan. Allah telah membangunkanku,dimana aku sadar tak ada gunanya membangun sebuah hubungan yang dinamakan pacaran. Tak ada gunanya berharap punya pacar. Bahkan di dalam agama yang telah aku yakini sejak lahir pun tak mengindahkan apa itu pacaran. Setidaknya aku merasa lega tidak akan menciptakan kebohongan lain lagi, karena si Kumbang pun sudah tak lagi menghubungiku. Biarlah aku menyimpan perasaan ini sendiri. Ku rasa aku akan sanggup menyimpannya hingga tiba saatnya untuk terungkap.
***
  Sore hari di penghujung tahun 2015
  Musim penghujan hadir di bulan desember, sore itu hujan turun begitu derasnya seolah menghapus kebohongan yang telah ku ciptakan. Membawa pergi pula kenangan mengenai si Kumbang. Aku sudah tak pernah lagi berkomunikasi dengannya, ku rasa ia sudah punya kehidupan baru yang lebih baik, mungkin juga bersama orang lain yang jauh lebih baik dariku yang sejak dulu hanya dianggap teman olehnya.
    Ku pandangi wajahku di cermin sambil sesekali ku benarkan kain jilbabku. “Ada baiknya juga aku tak memiliki wajah cantik. Tak ada laki-laki yang tertarik padaku hanya karena kecantikanku yang justru akan menimbulkan dosa untuknya dan tentu saja untukku, yang mana telah membuatnya berdosa karena tertarik pada kecantikanku.” Lalu ku ambil sebuah bros kecil berbentuk bunga mawar berwarna pink yang ku sematkan di jilbabku. “Aku tahu sekarang mengapa aku tak pernah punya pacar sampai sekarang, itu semua karena Allah sayang padaku, Allah ingin menjagaku dari perbuatan yang tak disukai-Nya.”
  Lalu mengapa aku harus malu lantaran tak punya pacar. Mengapa pula aku harus bersedih karena tak ada seorang yang mencintaiku padahal Allah sangat mencintaiku dan menghindarkanku dari perbuatan yang sangat dibenci-Nya. Tak terasa aku meneteskan air mataku. Betapa malunya aku, selama ini hanya menyibukkan diri berharap dan berandai-andai memiliki seorang pacar yang mejagaku, mengantarku ke mana pun aku mau, membawakanku sekuntum bunga dan menuruti semua yang ku mau. Sedangkan Allah telah menjagaku dari perbuatan terlarang itu.
  Kini semua kembali pada Allah, betapa cinta-Nya menentramkan. Cinta yang kekal abadi. Cinta yang dapat memuliakan kita, bukan cinta dua insan yang sedang dimabuk cinta yang mana tengah terjerat dalam sebuah hubungan mengerikan, yaitu pacaran. Melainkan adalah cinta seorang hamba yang sedang mengharap perlindungan-Nya, pelukan-Nya serta kasih sayang-Nya. Mulai saat itu pula, ku tanamkan dalam hati bahwa aku tak akan pernah lagi berharap punya pacar. Bahkan di saat teman-teman ku semakin dekat dengan pacarnya, semakin kuat hubungan mereka, namun lagi-lagi ku kuatkan hati ini untuk tidak salah melompat pada batun yang salah. Atas izin Allah, aku menlupakan semua keinginan untuk memilikin pacar.
  Kuisi hari-hariku dengan mengikuti kajian-kajian islam, memperdalam hobi membacaku supaya semakin luas pula pengetahuanku dan tak lupa selalu kuingatkan diriku sendiri untuk teguh pada pilihanku, yaitu menjadi jomblowati hingga Allah mengutus jomblowan yang bersedia dan berani menjadikanku kekasihnya di dunia maupun di akirat. Jomblowan yang berkata, “Want you be my partner for the afterlife? Want you be a mom to my childs?” sungguh itulah yang dinamakan pria sejati. Dan tentu saja pria sejati tak akan mencari teman hidup yang sembarangan. Diibaratkan seorang anak kecil yang cerdas jika diberi permen maka ia akan memilih permen yang masih terbungkus rapat dari pada permen yang sudah terbuka bungkusnya dan dikerubuti banyak semut. Semoga aku bisa menjadi permen yang masih terbungkus itu.
  Pernah suatu ketika aku mendengar seorang ustadz di dalam sebuah majelis yang aku ikuti, ia membacakan sebuah ayat yang menurutku bisa menyentil ingatanku. Ayat itu memiliki arti, “Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Ayat itu terkandung dalam Al Qur’an, surat Al Isra ayat 32. Dan ustadz itu juga menjelaskan bahwa pacaran adalah suatu perbuatan zina, yang mana pelakunya terlibat dalam hubungan tanpa ikatan yang sah dan setiap berbuatan yang dilakukan adalah haram, meskipun itu hanya berkirim pesan atau bertatap mata. Lagi-lagi hati ini meronta meminta pertangungjawaban pemiliknya yang dulu telah menodainya dengan pengharapan mempunyai seorang pacar. Meskipun hanya harapan, hal itu sungguh membuatku malu pada Allah yang telah melindungiku dari kegiatan pacaran. Namun aku juga tak pernah bisa memungkiri bahwa rasa cinta kian tumbuh menjalar di hati, rasa cinta yang tertuju pada seorang yang tak pernah tahu isi hati ini, seorang yang kabarnya saja tak ku ketahui. Semoga cinta ini tak membutakan jalanku untuk tetap melangkah di jalan-Nya. Aku pun berharap cinta ini tertuju pada seorang yang juga melabuhkan cinta pada-Nya. Biarkan cinta ini tersimpan rapat seperti cinta Fatimah binti Rasulullah SAW pada sang pria mulia, Ali bin Abi Thalib. Cinta yang ia simpan begitu rapat hingga setan pun tak tahu dan tak bisa menghasutnya untuk melakukan hal yang dibenci Allah. Hingga Allah mempersatukan cinta keduanya dalam ikatan penuh berkah yaitu pernikahan.
  Dalam doaku kini aku memohon pada Allah agar aku dijadikan jomblo mulia yang istiqomah dan senantiasa menjaga hati dari perbuatan yang di benci-Nya. Jika aku mampu melakukannya dengan keteguhan hati dan menjadikan setatus jomblo ini menjadi pilihan yang benar dan bukan semata-mata belum ada cowok yang bersedia meminangku sebagai pacar, sungguh aku tak akan segalau jomblo yang lainnya. Karena yang ku cari adalah pria sejati yang bersedia meminangku sebagai istri.
  Hingga sampai saat ini, Alhamdulillah aku masih dilindungi Allah dari hal mengerikan yang disebut pacaran. Semoga aku tetap istiqomah untuk menjadi jomblo karena Allah. Karena pada dasarnya Allah telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan, tak perlu galau karena di Lauhul Mahfuz semua telah tertulis dan tinggal menunggu waktunya tiba. Tugasku hanya selalu memperbaiki diri agar tetap dicintai-Nya dan pada suatu saat nanti akan didatangkan seorang yang juga mencintaiku karena-Nya.
  Mengenai Mawar, Melati, Kumbang dan Kamboja itu hanya nama samaran saja. Aku tak bisa menulis nama mereka secara terang-terangan karena aku tak ingin timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga kisah sederhanaku ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca. Aamiin Ya Rabbal Allamiin.
TIPS MENJADI JOMBLO MULIA :
1.      Percaya bahwa pacaran itu hanya fatamorgana. Karena dalam pacaran semua hanya dilandasi kebohongan. Bersikap seolah baik saat di depan pacar padahal tabiatnya tak seperti itu, mencintai pacarnya karena dia cantik/ganteng padahal semua itu akan hilang seketika dan kasih sayang dalam pacaran hanya akan seumur jagung dan kasih sayang Allah kekal abadi.
2.      Memperbanyak amalan pada Allah yang akan menghindarkan kita dari hal-hal yang dilarang-Nya. Contohnya menghadiri majelis, membaca dan mengamalkan Al Qur’an.
3.      Memantapkan hati untuk menjadikan setatus jomblo sebagai pilihan bukan karena kepepet. Kepepet karena belum ada yang mau, giliran ada yang ngajakin pacaran dengan mudahnya melepaskan setatus jomblonya dan malah terjerumus untuk menikmati indahnya dunia pacaran.
4.      Tanam dalam hati dan pikiran bahwa jadi jomblo itu mulia, mulia di hadapan Allah. Karena kita senantiasa menjaga diri kita dari perbuatan mendekati zina. Coba kita bayangkan jika suatu saat kita telah menikah dan kita bilang pada pasangan kita, “Kamu adalah yang pertama dan terakhir karena aku belum pernah pacaran dengan manusia mana pun sebelum kamu. Dan Allah telah meridhoi kita berpacaran dalam ikatan halal yaitu pernikahan.” Masya Allah betapa romantisnya kalimat itu.

5.      Senantiasa berdoa pada Allah agar kita selalu berada dalam lindungan-Nya.